Gebrakan Kajian di NH

(AK-47, UNS) Selasa (18/11/14), Tanpa rasa canggung pembicara yang termasuk golongan muallaf itu, memberikan ketegasan pada seluruh jama’ah di masjid NH UNS, ia tak gentar seandainya umat lain mungkin mendengarnya. Ustadzah Dewi Purnamawati, pembicara yang mengisi kajian acara dari JN UKMI. Perempuan kelahiran Solo tersebut pindah ke Lombok pada 1962 dan kembali lagi (ke Solo-red) pada tahun 1986 untuk mengajar .

Ia menceritakan pengalaman hidupnya sebelum mengenal islam dalam kajiannya yang bertajuk “Permutadan ”. Ciri-ciri pemurtadan pun ia paparkan bahkan mengemukakan hasil pemurtadan olehnya dulu. “Saya sendiri sejak kecil sudah memurtadkan teman-teman Islam saya. Mereka saya ajak. Iming-imingnya roti, tas, buku, sepatu, Tahun 1970-an mereka bersama-sama saya murtadkan.” Terangnya.

Berbekal referensi yang dulu pernah dimilikinya sebagai pakar kristologi, ia mengajak jama’ah untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang memurtadkan. Model dakwahnya yang “blak-blakan” tersebut mengundang orang-orang datang ke kajian yang diselenggarakan.

“Ini luar biasa, seorang muallaf yang berani tegas serta mengena di hati.” Ujar salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi, Satari. Hal senada pun diungkapkan oleh mahasiswa Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian, Ramdani bahwa ia sangat tertarik dengan kajian tersebut karena keberanian dan gaya penyampaian dari pembicara.

_Nurman

SKI FKIP UNS Adakan “Islamic Week”

(AK-47, FKIP UNS) Rabu (29/10), SKI FKIP UNS mengadakan acara “Islamic Week” yang diketuai oleh Ari Nugroho mahasiswa Prodi Pendidikan PKN, acara ini diselenggarakan di Gelora pendidikan FKIP UNS. Latar belakang diadakannya Islamic Week adalah untuk mengajak mahasiswa FKIP khususnya, agar lebih dekat dengan islam, “supaya bisa mendengarkan ilmu ketika berada disekitar area Gelora Pendidikan dan juga karena Islamic Week ini merupakan salah satu proker tahunan SKI FKIP tahun ini”. Ujar panitia koordinator lapangan, Evi Nugraeni.

Islamic Week diselenggarakan tujuh hari berturut-turut dimulai pada tanggal 26 Oktober 2014 dengan acara pembukaannya berupa acara lomba TPA anak-anak se-Surakarta dan dihadiri oleh 685 anak. Pada tanggal 27 Oktober 2014 diselenggarakan bazar buku islami di depan mini market Tania. Pada tanggal 28 Oktober 2014 di selenggarakan donor darah di Lobi gedung C. Kemudian, pada tanggal 29 Oktober 2014 merupakan acara inti yaitu di selenggarakannya bedah buku oleh ustadz Rifa’i Rifan dengan judul buku “From School to Heaven” dengan hiburan oleh Javapella dari prodi Pendidikan Bahasa Jawa, Keseso dari Pendidikan Seni Rupa dan juga Peron. Pada tanggal 30 Oktober 2014 diselenggarakan acara nonton bareng film berjudul “99 Cahaya Dilangit Eropa” season dua yang dimulai dari pukul 09.00 WIB pagi, dilanjutkan pada pukul 13.00 WIB diselenggarakan bincang-bincang inspiratif dengan pengisi materi dari mawapres dan dilanjutkan dengan kajian HMP. Pada tanggal 31 Oktober 2014 diselenggarakan pameran hasil karya adik-adik TPA dan juga training kemuslimahan memasak di Gelora Pendidikan serta diselenggarakan presentasi“Kid Kompetisi Esai Nasional Tentang Pendidikan“ di Aula gedung A. 20 pemenang esai akan dibukukan dan dikirimkan ke Presiden dengan harapan dapat memperbaiki pendidikan. Di tanggal 1 November 2014, acara ditutup dengan penyelenggaraan tabligh akbar di masjid Nurul Huda UNS.

Terkait dengan acara Islamic Week ini Evi berharap semoga tujuannya bisa tercapai dan bisa saling menyebarkan kebaikan. dan bisa lebih mengenal organisasi organisasi dikampus, karena kan disini kita kerja sama dengan semua organisasi , SKI bisa bekerja sama dengan peron, Javapella dan organisasi lainnya, jadi kan islam itu tidak ekslusif tetapi islam itu universal”.

_Nurman

Menyoal Kebijakan Penelitian di FKIP

Beberapa hari lalu mahasiswa FKIP UNS yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa FKIP UNS dikejutkan dengan sebuah teriak kekecewaan dari beberapa demissioner mereka, mengenai kebijakan penelitian baru di FKIP UNS. Pasalnya, Fakultas mulai memberlakukan kebijakan penelitian yang mengharuskan setiap penelitian dari mahasiswa  mengandung unsur pendidikannya seperti contohnya PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Yang menjadi pokok permasalahan adalah waktu pemberlakuan kebijakan yang terkesan tiba-tiba dan dipaksakan.

Pemberlakuan kebijakan yang terkesan tiba-tiba dan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya kiranya cukup membuat mahasiswa pra-skripsi kelabakan dibuatnya.  Karena surat ijin penelitian yang seharusnya telah mereka terima sebagai salah satu syarat menyusun skripsi, harus ditahan oleh pihak fakultas karena judul penelitian mereka yang tidak terdapat unsur pendidikannya.

Hal ini yang membuat biro pengkaderan Motivasi FKIP UNS mengangkat isu tersebut dalam diskusi perdananya pada kamis, 8 Mei 2014. Dalam diskusi internal yang berlangsung dari pukul 16.00 – 17.00 tersebut , terdapat beberapa pandangan berbeda dari beberapa pengurus yang hadir. Ipeh, mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan 2011 itu , kiranya cukup keberatan dengan kebijakan yang telah diberlakukan fakultas. Pasalnya , dari dulu prodinya tidak memperbolehkan mahasiswa menggunakan PTK dalam penelitiannya, karena PTK dianggap terlalu gampang. Lain lagi dengan isti, mahasiswa Pendidikan Matematika tersebut terkesan santai menanggapi pemberlakuan kebijakan , karena , sebagai salah satu bagian dari jurusan MIPA , PTK memang bukan hal baru bagi penelitian disana.

Akan tetapi, apapun kebijakan yang ditetapkan fakultas hendaknya tetap diikuti sebagai salah satu konsekuensi karena telah memilih menjadi bagian dari FKIP UNS. Kebijakan mengenai terdapatnya unsur pendidikan dalam setiap penelitian yang dilakukan hedaknya dijadikan maklum bagi setiap mahasiswa karena pada dasarnya basic kita adalah keguruan.

-pengkaderan

Waktu adalah Nyawa dan Kehidupan

Judul Film       : In Time

Sutradara         : Andrew Niccol

Genre              : Thriller, drama

Produksi          : Regency Enterprise Pictures

Rilis                 : 2011

Pemain                        : Will Salas (Justin Timberlake), Rachel Salas (Olivia Wilde), Sylvia Weis (Amanda Seyfried), Raymond Leon (Cillian Murphy).

In Time adalah sebuah film yang menceritakan tentang betapa berharganya setiap detik dari kehidupan yang dialami oleh manusia. Cerita ini berawal dari gradasi warna hijau zamrud yang berkedip detik demi detik, diiringi narasi suram dari Will Salas mengenai kehidupannya di dalam film tersebut. Semakin lama terlihat jam digital yang terdiri dari 14 digit dan terletak di lengan sebelah kiri Will Salas. Namun ternyata jam digital itu bukan sebuah jam melainkan sisa nyawa yang berjalan mundur.

Di dalam film ini, manusia tidak akan mengalami penuaan karena hormon pertumbuhan berhenti saat usia 25 tahun, sehingga tak akan ada bedanya antara nenek, ibu, dan anak perempuan. Banyaknya waktu yang dimiliki menjadi pembeda antara si kaya dan miskin. Yang kaya dapat hidup abadi, sedang yang miskin dapat mati.

Kehidupan Will Salas berubah dikala ia bertemu dengan seseorang yang memberikan waktu hidupnya secara cuma-cuma. Akibatnya, ia diburu komplotan perampok karena memiliki “waktu” berlebih. Dari situlah pertualangan Will bermula dan bertemu dengan Sylvia Weis untuk pertama kalinya. Seiring berjalannya waktu, keduanya terlibat ke arah kriminal yang memperjuangkan “waktu” untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat miskin.

Film ini syarat akan pesan moral bahwa kita sebagai manusia harus menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakannya begitu saja. Jadi, film ini layak untuk anda saksikan. Selamat menikmati!

Ningrum_

 

 

Maru Belum Mendapat Jas Almamater Hingga Perkuliahan Dimulai

maruSelasa (3/9/2014) jas almamater menjadi salah satu identitas dari universitas ataupun perguruan tinggi. Di Universitas Sebelas Maret semua mahasiswa baru belum mendapatkan jas almamater sejak dimulai kegiatan osmaru hingga masuk perkuliahan..

Hal ini mengundang kebingungan tersendiri bagi para mahasiswa, seperti yang diungkapkan oleh faozan (mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan) “ Ya sebenarnya saya tidak terlalu kecewa sih dengan pemberitahuan itu, karena sudah dapat peringatan dari kakak-kakak BEM bahwa pembagian jas ditunda. Di surat undangan kegiatan ada syarat ketentuan diharuskan menggunakan jas almamater. Hal itu membuat bingung kita ini, sehingga tidak sejalan dengan keadaan yang ada. Terus belum ada pemberitahuan tentang itu, lha jasnya aja belum jadi.”

Kekecewaan jugadiungkapkan oleh beberapa mahasiswa salah satunya Intan (mahasiswa baru Fakultas Hukum)“ Tentunya ketika menjadi maru adalah identitas, identitas itu adalah jas almamater. Pada kegiatan pertama hingga muncul kegiatan kegiatan lain, kami Cuma pakai putih-putih untuk atas bawah jadi kesannya polos mungkin jadi mirip perawat semua tapi pas hari ketiga di fakultas pakai kaos polo. Saya iri dengan teman-teman universitas lain sudah bangga menggunakan identitasnya sedangkan saya belum. Apalagi katanya masalah ini sudah masuk kesalah satu media dan itu juga membuat citra pelayanannya kurang”

Laila (mahasiswa baru Fakultas Pertanian) “Dengan keterlambatan jas almamater ini yang seharusnya tanggal 17-18 Agustus diundur atau ditunda oleh pihak pusat, dan belum lagi kepastiannya kapan. Di FP ada alternative lain untuk menggantikan jas yang belum jadi, yang biasanya memakai jas untuk kegiatan-kegiatan kemarinya itu membeli kaos dan slayer seharga Rp. 20.000 untuk setiap anak. Yah , harapannya semoga jas segera jadi saja mungkin kedepan ada kegiatan-kegiatan diluar nanti yang tentunya harus wajib memakai identitas. Apalagi ini pertama kali almet diundur ,dan kami juga tidak merasa rugi tapi kami juga butuh kebanggaan yang sama dengan mahasiswa luar UNS juga dengan mengenakan jas”Ungkapnya

UPL sebagai unit pengadaan semacam itu pun tidak mengetahui kepastian jas akan dibagikan pada mahasiswa baru. Wasis (Kepala UPL) mangatakan“ Kami hanya sebagai user atau pelaksana teknis. Ketentuan dan kebijakan turunnya dari atasan (rektor). Kemarin tentunya mahasiswa sudah dapat sms penundaan dari pusat mungkin ini terkendala oleh teknis, untuk masalah kapan jadi dan dibagikannya saya tidak dapat berkomentar.”Ungkapnya.

 

– Nurman

Gerakan Peduli Indonesia Inklusi

Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) merupakan gagasan dari 7 orang yang peduli terhadap Difabel. Acara ini diadakan di Aula Fakultas Hukum UNS pada hari Kamis, 19 Juni 2014 yaitu Seminar Menyongsong Peduli Indonesia Inklusi merupakan eksekusi dari GAPAI itu sendiri. Terdapat dua seminar dalam GAPAI kali ini, membahas mengenai Undang – undang tentang hak – hak Difabel, baik hak memperoleh pendidikan, pekerjaan, hak dalam kehidupan sehari – hari, selain itu juga ditekankan pada aspek kepedulianterhadap Difabel yang perlu ditingkatkan dan perlu adanya realisasi dari bentuk kepedulian tersebut yaitu mengenai Aksesbilitas bagi Difabel terutama di lingkungan UNS itu sendiri.

Acara ini dimeriahkan oleh performing art dari siswa siswi SLB, antara lain dari SLB YKAB Klaten yang menampilkan sebuah group band, ada pula SLB YRTRW yang menampilkan pantomim. Performing art dari beberapa SLB tersebut sangat memukau penonton, terlihat dari tamu undangan yang antusias melihat dan memberi tepuk tangan penampilan mereka.

Latar belakang diadakannya acara tersebut karena melihat masih sedikit sekali Difabel yang mendapatkan hak dalam pendidikan terutama pada jenjang perguruan tinggi. “Sebenarnya, mereka ingin meneruskan ke perguruan tinggi, tidak hanya sampai SMA saja, potensi yang mereka miliki juga tak kalah dengan anak – anak lainnya, hanya saja akses yang mendukung hingga perguruan tinggi belum cukup memadai, di UNS sendiri sudah siap karena telah menerima sertifikat atau label kampus inklusi, tetapi belum ada mahasiswa yang Difabel, Pak Rafik sendiri memandatkan kepada saya untuk memetakan akses mana saja yag belum mendukung untuk Difabel.” Ujar Sidiq ketua panitia seminar GAPAI.

Ibu Barkha guru SLB YRTRW beranggapan bahwa susahnya Inklusi tersebut karena pemahaman dari orang tua yang salah, seperti orang tua yang memaksakan anaknya untuk masuk sekolah Inklusi, padahal dalam kenyataannya anak tersebut tidak mampu untuk bersekolah disana. Selain itu juga sekolah yang belum mampu menerima Difabel, karena kendala aksesbilitas maupun tidak adanya guru pendamping khusus. Sebenarnya semua anak Difabel dapat bersekolah disekolah inklusi asal tidak dipaksakan, dalam arti anak tersebut memang bisa mengikuti pembelajaran bersama anak – anak lainnya di sekolah inklusi. Dengan adanya GAPAI ini, Midarsih salah satu peserta acara ini berharap agar semakin banyak masyarakat yang paham mengenai inklusi sehingga inklusi dapat terealisasikan dengan baik.

Harapan Sidiq selaku Ketua Panitia Seminar GAPAI, “setelah diadakannya seminar ini semoga semakin banyak masyarakat yang tau mengenai inklusi itu sendiri, dan semakin peduli pada orang – orang Difabel, agar bisa memperjuangkan hak – hak Difabel bersama, karena jika hanya sedikit orang yang menyuarakan, Inklusi tidak berarti apa – apa, namun jika banyak orang yang menyuarakan Inklusi. Maka, Inklusi dapat terseksekusi dengan baik.”

Nurman – Widya

Booklicious LPM Kentingan

(AK-47, UNS) Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan (LPM Kentingan) mengadakan acara yang  bertemakan Booklicious,book is delicious”, artinya adalah membaca buku itu enak, jadi tidak hanya makanan saja yang enak tetapi membaca buku itu juga enak. di Student Center Universitas Sebelas Maret (SC UNS) pada tanggal 18-22 Mei 2014, pada pukul 09.00 – 20.00 WIB.

Acara utama adalah Bazar Buku, untuk mendampingi dan memeriahkan bazar buku tersebut diselenggarakan pula berbagai acara pendukung. Seperti pada (18/5) kemarin telah diadakan Lomba Mewarnai.  (19/5) diadakan acara Bedah Buku dari salah satu penerbit besar yaitu Gagas Media, menghadirkan penulis Arini Putri beserta editornya yaitu Bernard Batunara. (20/5)diadakan acara donor darah, (21/5) pukul 15.00 – 17.00 WIB diadakan Bedah Fokut Majalah Kentingan merupakan produk dari LPM Kentingan sendiri, mengangkat tajuk Makian yang dilihat dari berbagai sisi, yaitu Budaya, Media, Seni. Dari bidang Budaya akan disampaikan oleh Bandung, salah satu pengamat seni.

Tujuan dari acara Bazar Buku ini, seperti yang diungkapkan oleh Any Hidayati salah satu Sie Acara, adalah untuk mendekatkan Civitas Academica pada buku, membudayakan membaca buku kembali sehingga tidak hanya membaca Timeline saja tetapi juga membaca buku yang berbobot.

 

Afafi – Widya

Pelantikan Pengurus BEM FKIP UNS

(AK-47, FKIP UNS) Sabtu (10/5), telah berlangsung acara Pelantikan PresidenBadan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (BEM FKIP UNS) tahun 2014/2015.Di Aula Lantai 2 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FKIP pada pukul 09.00 – 09.45 WIB  waktunya 1jam dari yang diagendakan yaitu pada pukul 08.00 WIB, Acara dihadiri oleh Kabinet BEM FKIP UNS, Dewan Mahasiswa (DEMA) serta perwakilan dari beberapa UKM lainnya seperti Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi (HIMANNOMI) , Unit Pengembangan Kesenian Daerah (UPKD) dan lain-lain.

Acara ini di buka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pada pukul 09.30 WIB Presiden BEM FKIP 2014/2015Eko Pujiyanto dilantik oleh Parji  selaku Ketua Dema yang baru. Acara resmi ditutup setelah adanya orasi Presiden BEM yang mengatakan bahwa “  Aspek penting untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik adalah dengan pendidikan, memajukan pendidikan diperlukan kontribusi besar serta pemikiran banyak orang dan saya akan menjalankan amanah yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya.”

Terkait dengan adanya pelantikan ini Maryam selaku anggota DEMA berharap “ tahun ini BEM lebih fokus kinerjanya dalam lingkup  ‘Kentingan’  agar kinerjanya lebih terlihat ” dan Rosida  dari Himmanomi juga berharap “ BEM lebih meningkatkan kinerjanya yang dinilai sudah baik ”.

_afafi

Nurul Huda Book Fair

(AK-47, UNS) Jumat (19/5), Takmir Masjid Nurul Huda Islamic Centre Universitas Sebelas Maret (NHIC UNS) menyelenggarakan acara perdana bertajuk Nurul Huda Book Fair. Berada di Sekretariat lembaga amil zakat infaq shodaqoh (lazis) uns dan serangkaian acara di ruang Seminar NHIC. Pameran buku ini dibuka pada pukul 08.00-17.00 WIB. Acara ini dapat terlaksana karena bekerja sama dengan berbagai macam penerbit seperti, Indiva, Ziad, Media Insani, Tiga Serangkai, UNS Book Store. Salah satu tujuan utama penyelenggaraan acara ini adalah untuk memperkenalkan Perpustakaan NH.
Selain Book Fair, juga terdapat berbagai event – event menarik pula, seperti Grand Opening yang diselenggarakan pada hari Senin dibuka langsung oleh ketua perpustakaan Widodo. hari Selasa ada pengumpulan fotografi yang diikuti sebanyak 30 peserta baik dari mahasiswa UNS maupun umum, obyek berupa Masjid Nurul Huda. Ada pula majelis Jejak Nabi oleh Ustad Salim Afillah. Selanjutnya hari Rabu masih ada lomba kaligrafi dari pukul 08.00 – 11.00 WIB. Peserta yang telah mendaftar berkisar 10 orang. Pada hari Kamis ada pula Kajian Muslimah dan Bedah Buku pula oleh Asri Istiqomah. Jumat masih ada acara Bedah Buku oleh Fahmi Kasofa, meskipun masih ada rangkaian acara lagi di hari Sabtu yaitu Tablig Akbar yang bekerja sama dengan HMJ Hiperkes, namun secara Ceremony, Nurul Huda Book Fair ini ditutup oleh Rektor. Selain itu hari Jumat pula akan dibuka Bulan berbagi buku dan waqof mobil perpustakaan keliling yang merupakan acara dari Laziz.
Menurut panitia acara Lutfiatul Latifah, mengatakan meskipun acara ini adalah acara perdana namun sudah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, baik masyarakat UNS maupun sesolo raya, terlihat dari banyaknya jumlah pengunjung yang setiap hari terus mewarnai acara di Lazis ini. Acara ini telah dipromosikan ke berbagai sekolah, Unisri, ISI, maupun lewat berbagai sosial media yang tersedia.

Afafi – Widya